Kopi Sekanak, kopi watak orang Melayu - ARDIYANTO TEDJO BASKORO

ARDIYANTO TEDJO BASKORO

BREMI PERSONAL BLOG

BlOGGER TANJUNGPINANG

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here
Kopi Sekanak, kopi watak orang Melayu

Kopi Sekanak, kopi watak orang Melayu

Share This

Pada satu malam, penyair Sutardji Calzoum Bachri menyempatkan bertemu dengan rekan-rekannya di Dapur Melayu. Ketika itu dia tengah pulang ke kampung halamannya di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau untuk naik pentas dalam sebuah pertunjukan budaya. Secangkir kopi yang disuguhkan membuatnya terdiam usai mereguknya. Seolah tengah meresapi syair yang digubah, sang penyair ternama itu berusaha mengumpulkan kalimat untuk mengurai kenikmatan kopi Sekanak yang diminumnya. 
Matanya tak lepas memandangi cairan hitam pekat kental yang tersaji dalam cangkir porselen putih kecil di hadapannya. Hingga akhirnya ia berucap,"Kopi ini indah karena kata-kata, dan kopi ini sebenarnya sudah nikmat."
Tak salah jika Sutardji berkomentar demikian. Inilah muara kenikmatan secangkir kopi yang menjadi puncak perjalanan rempah-rempah Nusantara.
Menjadi bagian dari khazanah Kerajaan Melayu, kopi Sekanak adalah kopi watak orang melayu. Berasal dari Sekanak, Lingga, Kepulauan Riau, yang dahulu menjadi jantung Kerajaan Melayu, kopi Sekanak adalah warisan para pengelana lautan asal Tiongkok yang diracik dengan hati. Dengan memadukan sensasi tujuh rempah dan kekuatan biji kopi robusta, kopi Sekanak menghadirkan kenikmatan gurih yang menebarkan aroma. 
Konsep penyajian kopi Sekanak telah diterapkan sejak ratusan tahun lalu. Menjadi bagian dari puncak perjalanan rempah-rempah, kopi Sekanak adalah kopi Suma Oriental terakhir yang dahulu keberadaannya hanya dapat dinikmati di Kerajaan Riau Lingga. 
Pada masa kejayaan kerajaan itu, kopi Suma Oriental yang disukai Laksamana Chengho ini hanya dapat dinikmati secara sembunyi-sembunyi oleh orang-orang tertentu. Konon, pada saat itu hanya para bangsawan sajalah yang bisa menyesap kenikmatan biji kopi yang diolah oleh para para peracik rempah ulung dari Negeri Tirai Bambu.
Di Dapur Melayu, kopi Sekanak menjadi sajian utama. Disajikan menggunakan cangkir porselen Tiongkok yang bisa membuat kenikmatan rempah cepat menyatu kala diseduh, kopi Sekanak menebar uap wangi cengkih dan kayu manis yang wangi dan ketika menyusup dalam rongga mulut menimbulkan teka-teki pengurai rasa. 
Untuk menikmati kopi Sekanak sebuah rangkaian tata cara digunakan seperti hikayat konsep penyajiannya. Kopi Sekanak disajikan bersama kayu manis dan kue kering bernama batang buruk. Kebanyakan orang Melayu menyesap harum kopi itu terlebih dahulu sebelum mengaduknya tanpa gula. 
Sambil meresapi kegurihan khas kopi itu, dua bongkah gula batu dicampurkan. Kemudian orang mengaduknya sehingga rasa manis hadir. Meski demikian, rasa gurih rempah kopi Sekanak tetap tak mampu dikalahkan oleh rasa manis dari gula batu.
Sensasi datang kemudian ketika kue batang buruk yang menjadi pendamping kopi sejak ratusan tahun lalu itu disesap ke dalam mulut secara utuh. Rasa kopi Sekanak yang perlahan direguk membilas kue kering di mulut. Kenikmatan ini hadir menggugah rasa yang berbeda. Bercampur dengan larutan kue batang buruk, gurihnya kopi menjadi sangat lezat dan sangat lembut.
Teja Alhabd, pemilik kedai Dapur Melayu menerangkan filosofi kopi Sekanak yang menjadi watak orang Melayu. Menurut Teja, untuk mendekati orang Melayu dibutuhkan sebuah proses penyelaman etika. Kebanyakan orang Melayu tak bisa didekati dengan watak keras, butuh kelihaian membangun kesantunan. Janganlah mencoba menyeruput kopi Sekanak secara langsung. Bila nekad melakukannya, sebuah ledakan rasa dalam perut dan kepala segera merajah.
Sambil berbincang, biasanya orang-orang Melayu menikmati kopi Sekanak menggunakan batang kayu manis yang kering. Kayu manis itu dicelupkan ke dalam gelas kopi. Cairan kopi yang menempel di batang kayu manis itu kemudian diisap. Butuh penghayatan untuk menyesap rasanya dan saat itulah kenikmatan kopi Sekanak hadir. Kenikmatan rasa kopi Sekanak tak mampu dikalahkan oleh beragam kopi yang kini mewabah di kalangan para pencinta kopi.
Kopi Sekanak bisa menjadi sajian yang hangat dan lembut ketika dicampur susu sapi atau kambing yang kaya lemak. Dan ketika dihadirkan bersama sedikit es batu yang diparut halus, butuh perlakuan layaknya meminum wine. Memang ada perubahan rasa ketika meminum kopi Sekanak dalam keadaan dingin. Kopi susu dengan aroma rempah itu seolah mendapatkan singgasana dalam rongga mulut. Ia menguasai kenikmatan, menguap di mulut dalam waktu lama. Sekanak menggugah selera untuk menerawang. 
Jika kenikmatan sesaat hadir tatkala menikmati kopi Sekanak dingin berbalut lemak, kopi Sekanak hitam adalah penguasa rasa. Kopi Sekanak panas meresap lama dan kerap berganti rasa. 
Saya membayangkan Laksamana Cheng Ho tatkala mencicipi kopi ini. Melintas lautan ia berdiri di ujung haluan, menikmati matahari hangat perairan Laut Tiongkok Selatan. Dia memandangi pulau-pulau kecil tempat rempah disemai menjadi kenikmatan, kala itulah ia menikmati kopi Sekanak yang rasanya lembut berpadu rasa cengkih yang kuat dengan kayu manis dan pala yang menyesap. Tak salah jika sang penyair, Sutardji Chalzoum Bachri menyebut kopi Sekanak merupakan peraduan wajah kenikmatan rasa dan kata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages